Sunday, May 5, 2013

KEPEMIMPINAN - SOFTSKILL TEORI ORGANISASI UMUM 2


 KEPEMIMPINAN

DEFINISI KEPEMIMPINAN

1) Kepemimpinan adalah perilaku seorang individu ketika iamengarehkan aktifitas sebuah keleompok menuju suatu tujuan bersama.(menurut Hemphill & Coons,1957:7)
2) Kepemimpinan adalah suatu jenis hubungan kekuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota kelompok bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalam hubungannya dengan kegiatannya sebagai anggota kelompok(Janda,1960:358)
3) Kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi yang mengarah yang dilakasanakan melelui proses komunikasi,kearah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu(Tanenbaum,Weschler&Massarik,1961:24)
4) Kepemimpinan  adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang terorganisasi menuju pencapaian suatu tujuan(Roach & Behling 1984:46)


SIFAT PEMIMPIN 

1) Energi jasmaniah dan rohaniah
2) Kesadaran akan tujuan dan arah
3) Antusiasme
4) Keramahan dan kecintaan
5) Integritas
6) Pengasaan teknis
7) Ketegasan dalam mengambil keputusan
8) Kecerdasan
9) Keterampilan mengajar
10)Kepercayaan


ASAS KEPEMIMPINAN 

1) Kemanusiaan
2) Efisien
3) Kesejahteraan Dan kebahagiaan yang lebih merata menuju pada taraf hidup yang lebih tinggi


METODE KEPEMIMPINAN 

Metode kepemimpinan ialah cara bekerja dan bertingkah laku pemimpin dalam membimbing para pengikutnya untuk berbuat sesuatu maka metode kepemimpinan ini diharapkan bisa membantu keberhasilan pemimpin dalam melakukan tugas-tugasnya sekaligus juga dapat memperbaiki tingkah laku serta kualitas kepemimpinan. Ordway Tead dalam bukunya  “The Art of Administration 1951”  mengemukakan  metode kepemimpinan dibawah ini
1) Memberi perintah
2) Memberikan celaan dan pujian
3) Memupuk tingkah laku pribadi pemimpin yang benar
4) Peka terhadap saran-saran
5) Memperkuat rasa kesatuan kelompok
6) Menciptakan disiplin diri dan disiplin kelompok
7) Meredam kabar  angin dan isu-isu yang tidak benar


TEORI & TEKNIK KEPEMIMPINAN 

Teori Kepemimpinan
1) Suatu penggeneralisasian dari suatu seri fakta mengenai sifat sifat dasar dan perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinan
2) Dengan menekankan latar belakang historis,dan sebab musabab timbulnya kepemimpinan serta persyaratan untuk menjadi pemimpin
3) Sifat-sifat yang diperlukan oleh seorang pemimpin,tugas-tugas pokok dan fungsinya,serta etika profesi yang perlu dipakai oleh pemimpin

Teori-teori yang dimunculkan menunjukan perbedaan dalam:
1) Pendapat dan uraiannya
2) Metodologinya
3) Interpretasi yang diberikan
4) Kesimpulan yang ditarik

G.R Terry mengemukakan teori kepemimpinan yaitu teori-teori sendiri ditambah dengan teori-teori penulis lain sebagai berikut:
1) Teori otokratis
2) Teori  psikologis
3) Teori sosiologis
4) Teori suportif
5) Teori laissez faire
6) Teori kelakuan pribadi
7) Teori sifat
8) Teori situasi
9) Teori humanistic/populistik
   
Teknik Kepemimpinan
1) Kemampuan dan keterampilan teknis
2) Melingkupi konsep konsep pemikirannya,perilaku sehari-hari,serta peralatan yang digunakan.

Etika Profesi Pemimpin dan Etiket
Paul E Torgersen dalam bukunya “Management and Integrated Approach” menyatakan profesi sebagai: satu lapangan kegiatan (a field of activity) dalam mana terdapat lima kriteria,yaitu:
1) Pengetahuan
2) Aplikasi yang kompeten (competent application)
3) Tanggung jawab sosial (social responsibility)
4) Pengontrolan diri
5) Sanksi masyarakat (community sanction)

Etika profesi pemimpin ialah pembahasan mengenai:
1) Kewajiban-kewajiban pemimpin;
2) Tingkah laku pemimpin yang baik,dan dapat dibedakan dari
3) Tingkah laku yang buruk
4) Moral pemimpin

Fungsi kelompok dalam individu :
1) Kelompok itu memberikan wadah yang social dan ruang hidup psikologis kepada individu,sehingga memunculkan “sese of belonging” (merasa menjadi anggota dari satu kelompok), untk berprestasi dan bekerjasama dengan ornag lain.
2) Menjadi kader-referensi untuk mengaitkan diri ,sehingga muncul loyalitas   dan kesetiakawanan
3) Memberikan rasa sehingga orang merasa betah.
4) Memberikan status social kepada individu sehingga dia merasa dihargai, diakui, diterima, merasa mendapat posisi  social dan penghargaan dari lingkungannya
5) Memberikan ideal-ideal, cita-cita,tujuan-tujuan (hidup) tertentu dan asas-asas perjuangan bagi hidupnya


PEMIMPIN & ORGANISASI 

Hubungan antara Pemimpin/Kepemimpinan, Organisasi, Manajemen dan Administrasi.
Organisasi adalah  system kegiatan terkoordinasi dari kelompok orang yang bekerja sama mengarah pada tujuan bersama,dibawah kewenangan dan kepemimpinan
Kepemimpinan mempunyai fungsi sebagai penggerak/dinamisator dan coordinator dari sumberdaya manusia,sumberdaya alam,semua dana dan sarana yang disiapkan  oleh sekumpulan manusia yang berorganisasi.
Manajemen menurut  R.W.Morell dalam bukunya “management Ends and Means”  Manajemen adalah aktifitas dalam organisasu,terdiri dari penentuan tujuan tujuan (sasaran)suatu organisasi,dan penentuan sarana sarana untuk mencapai sasaran secara efektif.
Fungsi manajemen yaitu merencanakan,mengorganisir,melakukan evaluasi,dan mengontrol segenap aktifitas organisasi serta administrasi
Administrasi menurut Sondang P.Siagian ialah keseluruhan proses  kerjasama antara dua orang manusia atau lebih didasarkan atas rasionalitas tertentu untk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.


PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMIMPIN

Dalam kondisi ketidakpastian dengan banyak perubahan yang mendadak, maka aktivitas pengambilan keputusan merupakan unsure yang paling sulit dalam manajemen, namun juga merupakan usaha yang paling penting bagi pemimpin.
Dalam pengambilan keputusan tersebut tercakup kemahiran menyeleksi da menentukan kputusan yang paling tepat dari sekian banyak alternative jawaban atau pemecahan masalah.
Sehubungan dengan uraian tersebut, maka kepemimpinan itu merupakan  kekuatan dinamis yang bias menumbuhkan motivasi, aspirasi, koordinasi, dan integrasi pada organisasi, yang semuanya sangat penting bagi pencapaian tujuan bersama.
H.A Simon dalam bukunya “Administrative Behaviour” (1947), mengemukakan 3 proses dalam pengambilan keputusan yaitu :
1) Inteligenc activity
2) Design activity
3) Choise activity


DETERMINAN KEPEMIMPINAN 

Agar kepemimpinan menjadi operasional , perlu ada 3 determinan kepemimpinan yaitu :
1) Faktor orang
2) Faktor posisi
3) Faktor situasi/ tempat


KEPEMIMPINAN ABNORMAL

Terkadang kita mengidealisir tokoh pemimpinan dengan sebutan-sebutan gagah perwira, bagus, berkepribadian sekokoh banteng, beribawa, jujur seperti dewa dan lainnya. Kita tak pernah berfikir bahwa semua itu adalah “wishful thinking”. Yang paling penting bagi kita adalah :
1) Kita memerlukan pemimpin  yang baik dan bijaksana penuh rasa kemanusiaan
2) Tidak menempatkan individa-individu yang egoistis  dan overambisius, yang selalu mementingkan interest  sendiri dan “gila kekuasaan” sebagai pemimpin
3) Pemimpin yang berani bertanggung jawab
Struktur masyarakat modern di alam demokrasi memungkinkan individu-individu yang sangat ambisius untuk menduduki kursi kepemimpinan yang paling tinggi. Penonjolan diri sendiri untuk menjabat kursi kepemimpinan itu biasanya merupakan kompensasi dariinferiorias dan kekerdilannya.
Sehubungan dengan semua tadi, efisiensi kepemimpinan itu jangan hanya diukur dengan criteria materiil-finansiil dan produktivitas yang menguntungkan organisasi saja,


MEMILIH CALON PEMIMPIN 

Untuk memenuhi kepemimpinan suatu organisasi, seorang pemimpin tertinggi atau top-manager  diharuskan memilih pembantu-pembantunya  untuk memimpin kelompok , bagian, bidang, seksi, dan urusan yang menjadi bagian dari organisasi tersebut.  
Persyaratan paling utama bagi seorang calon pemimpin adalah :
“dapat memimpin orang lain kearah pencapaian tujuan organisasi, dan dapat menjalin komunikasi antar manusia,karena organisasi itu selalu bergerak  atas dasar interaksi antar manusia
Menurut  O.Jeff Harris, orang-orang yang perlu dipilih sebagai kandidat-kandidat atau calon pemimpin adalah mereka yang mempunyai kualifikasi antara lain sebagai berikut :
1) Memiliki kemauan untuk memikul tanggung jawab
2) Kemampuan untuk menjadi perseptif
3) Kemampuan untuk menanggapi secara objektif
4) Kemampuan untuk menetapkan prioritas[i] secara tepat
5) Kemampuan untuk berkomunikasi


PEMBINAAN KEPEMIMPINAN PEMUDA

Beberapa landasan bagi pembinaan kepemimpinan pemuda di Indonesia antara lain :
1) Landasan Ideologi dan Konstitusional
a) Landasan Ideologi
Pancasila sebagai sumber hokum dari segala hokum yang berlaku disegenap wilayah negara Republik Indonesia harus menjadi landasan ideology sekaligus juga merupakan pancaran sikap setiap insane Indonesia, terutama  dari para pemimpin bangsa. Khususnya pemimpin pemuda sebagai penerus/pelanjut/pewaris kepemimpinan bangsa hars melandasi ideologinya dengan jiwa Pancasila.
b) Landaasan Konstitusional
UUD 1945 merupakan dasar hukum tertulis  yang tertinggi, dan merupakan perwujudan kehendak Pancasila secara konkrit. UUD 1945 merupakan pula bagian yang tidak terpisahkan dari Pancasila sebagai dasar Negara dan pandangan hidup bangsa ;serta mengikat setiap warga Negara  Republik  Indonesia secara yuridis formal-inklusif para pemimpin.

2) Landasan Kultural
Sikap hidup kekeluargaan dan gotong royong sebagai nilai-nilai luhur cultural Bangsa Indonesia harus melandasi cara berfikir dan perilaku pemimpin Indonesia.

3) Landasan Strategis
Landasan strategis daam mewujudkan Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Indonesia adalah  Garis-garis  Besar Haluan Negara (TAP MPR No. IV /MPR/1978), antara lain berisi :
a) Pengembangan generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader-kader penerus perjuangan bangsa
b) Pengembangan wadah pembinaan generasi muda
c) Perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional tentang  kepemudaan secara menyeluruh dan terpadu.

4) Landasan Operasional
a) Keputusan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan No 0323/1978 tentang Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
b) Keputusan Presiden No. 23 Thaun 1979 tentang Badan Koordinasi Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda


KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN 

Karateristik kepemimpinan pada umumnya dimanapun dan apapun tingkatannya adalah jelas yait dia harus mempunyai kewibawaan dan kelebihan untuk  mempengaruhi serta mengajak orang lain guna bersama-sama berjuang , bekerja, dan berusaha  mencapai satu tujuan bersama.
Sifat – sifat unggul kepemimpinan yang efektif secara ringas dapat dituliskan sebagai berikut :
“berani, tegas, kaya akan inisiatif, luas pengetahuan da pengalaman, peka terhadap lingkungan dan bawahan , mampu menjalin komunikasi yang akrab, berani mengambil keputusan dan resiko, rela berkorban, mau bermusyawarah dan mufakat , bertanggung jawab dan konsekuen, bersikap terbuka, jujur, mempunyai prinsip-prinsip yang teguh”
Sedangkan karateristik kepemimpinan Indonesia, setiap pemimpin Indonesia perlu memiliki dan mencerminkan Kepemimpinan Pancasila.  Kepemimpinan Pancasila yang berasaskan hal-hal tersebut dibawah ini :
1) Ke- Tuhanan Yang Maha Esa
2) Hing Ngarsa Sung Tulada (di depan memberikan teladan)
3) Hing Madya Mangun Karsa (ditengah memberi motivasi dan kemauan)
4) Tut Wuri Handayani (dibelakang member kekuatan)
5) Waspada Purba Wisesa (waspada dan berkuasa)
6) Ambeg Parama Artha (mempunyai sifat kebenaran)
7) Prasaja
8) Satya (setia)
9) Hemat (Gemi, Nastiti, ati-ati) (hemat,cermat,hati-hati)
10) Terbuka
11) Legawa (rela dan tulus ikhlas)
12) Bersifat Ksatria


TIPE PEMIMPIN MAHASISWA 

Antara kelompok mahasiswa sebagai satu unit dengan pemimpinnya selalu terdapat kaitan yang erat.  Maka tipe pemimpin mahasiswa dapat kita bagi dalam beberapa  penggolongan yaitu sebagai berikut :
1) Pembagian menurut sifat kepemimpinannya , ialah otoriter atau otoritatif, yang demokratis, laissez faire
2) Pembagian menurut “status” atau kedudukan : solider atau berdasarkan prinsip pilihan dan solidaritas kelompok , yang resmi, dan pemimpin konsultan
3) Pembagian menurut bidang  interestnya: murni ilmiah,social politik dan rekreatif




SUMBER 

1) Kartono Kartini., Pemimpin dan Kepemimpinan, Indonesia, Jakarta, 1992.
2) Wirawan Sarlito S., Phisiklogi Sosial, Jakarta, 1998
3) Kartini Kartono, Phisikologi Sosial Perusahaan Dan Industri, Rajawali, Jakarta, 1981
4) Mar’at, Pemimpin dan Kepemimpinan, Ghalia, Indonesia, Jakarta, 1985.
5) Siagian Sondang P., Peranan Staff  dan Management, Jakarta, Gunung Agung, 1976.

HARGA PENAWARAN & PERMINTAAN - SOFTSKILL TEORI ORGANISASI UMUM 2


PENGERTIAN :

Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Istilah harga digunakan untuk memberikan nilai finansial pada suatu produk barang atau jasa. Biasanya penggunaan kata harga berupa digit nominal besaran angka terhadap nilai tukar mata uang yang menunjukkan tinggi rendahnya nilai suatu kualitas barang atau jasa. Dalam ilmu ekonomi harga dapat dikaitkan dengan nilai jual atau beli suatu produk barang atau jasa sekaligus sebagai variabel yang menentukan komparasi produk atau barang sejenis.

Penawaran, dalam ilmu ekonomi, adalah banyaknya barang atau jasa yang tersedia dan dapat ditawarkan oleh produsen kepada konsumen pada setiap tingkat harga selama periode waktu tertentu. Permintaan suatu barang akan dipengaruhi oleh barang yang memiliki keterkaitan seperti barang subtitusi dan barang komplementer.

Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu.


JENIS PERMINTAAN :

1) Permintaan Menurut Daya Beli
Berdasarkan daya belinya, permintaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

1A) Permintaan efektif adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang atau jasa yang disertai dengan daya beli atau kemampuan membayar. Pada permintaan jenis ini, seorang konsumen memang membutuhkan barang itu dan ia mampu membayarnya. Contoh : Ridwan membutuhkan laptop untuk menegrjakan tugas kuliahnya, dan ridwan mempunyai uang untuk membeli laptop tersebut sehingga keinginan ridwan terpenuhi.

1B) Permintaan potensial adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang dan jasa yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membeli, tetapi belum melaksanakan pembelian barang atau jasa tersebut. Contoh : Saya mempunyai cukup uang untuk membeli sepatu, namun saya belummempunyai keinginan untuk membelinya.

1C) Permintaan absolut adalah permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang tidak disertai dengan daya beli. Pada permintaan absolut konsumen tidak mempunyai kemampuan (uang) untuk membeli barang yang diinginkan. Contoh : Dian ingin membeli sebuah buku metematika. Akan tetapi uang yang dimiliki Dian tidak cukup untuk membeli buku tersebut. Oleh karena itu keingian Dian tidak terpenuhi.

2) Permintaan Menurut Jumlah Subjek Pendukungnya
Berdasarkan jumlah subjek pendukungnya, permintaan terdiri atas :

2A) Permintaan individu adalah permintaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2B) Permintaan kolektif adalah permintaan pasar adalah kumpulan dari permintaan-permintaan perorangan/individu atau permintaan secara keseluruhan para konsumen di pasar.


PENENTUAN HARGA PERMINTAAN :

Untuk menentukan suatu harga produsen tidak boleh sembarang menentukan harga, produsen harus meihat dahulu apa saja yang dibutuhkan untuk menentukan suatu harga seperti pendapatan konsumen, selera konsumen, apa yang sebenarnya dibutuhkan konsumen, dll. Maka disini akan dijelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi suatu permintaan individu atau masyarakat terhadap suatu barang :

1) Harga barang subtitusi dan barang komplementer
Permintaan suatu barang akan dipengaruhi oleh barang yang memiliki keterkaitan seperti barang subtitusi dan barang komplementer.
Sebelum itu, kalian tau apa beda antara barang subtitusi dan barang komplementer ?
 

Barang substitusi merupakan barang yang dapat saling menggantikan kegunaan dari barang tersebut. Contohnya yang paling sederhana adalah Nasi dan Roti. Nasi dan Roti sama sama memiliki kandungan karbo hidrat. Namun di Indonesia rata-rata memilih nasi dibandingkan roti karena harga beras di indonesia relatif stabil, tetapi mungkin suatu saat, saat harga beras lebih tinggi dibanding gandum mungkin orang-orang di Indonesia akan beralih ke roti seperti orang barat.

Barang komplementer merupakan barang yang kegunaannya saling melengkapi satu sama lain. Contohnya yang sederhana adalah pulpen dan tinta. Dibutuhkan tinta untuk menulis menggunakan pulpen. Begitu pula sebaliknya, tanpa adanya pulpen tinta mungkin tidak dapat digunakan sebagai alat menulis. Tanpa ada salah satunya maka kegunaan dari salah satu barang tidak akan maksimal.
 

Dari ilustrasi diatas jelas dapat kita pahami kenapa barang substitusi dan komplementer dapat mempengaruhi permintaan akan suatu barang. Ketika harga beras naik maka konsumen akan beralih mengkonsumsi roti begitu juga sebaliknya jika harga gandum naik maka konsumen akan lebih memilih mengkonsumsi nasi. Begitupun pada barang komplementer, ketika harga pulpen naik maka permintaan akan tinta pun berkurang karena orang kan beraling menggunakan alat lain yang akan mempengaruhi pada permintaan komplementer dari pulpen tersebut.

2) Pendapatan Konsumen
Pendapatan konsumen pun akan mempengaruhi permintaan akan suatu barang atau jasa. Ketika pendapatan seseorang meningkat, maka permintaan pun diprediksi akan meningkat begitupun sebaliknya. Coba kalian ingat, ketika kalian diberi uang jajan lebih oleh ortu pasti belanja jajan kalian pun kan meninkat, namun ketika uang jajan kalian dipotong maka jajan kalian pun akan berkurang. Begitu halnya dengan konsep pendapatan.

3) Jumlah Penduduk
Pertambahan jumlah penduduk jelas menambah jumlah barang yang dikonsumsi, akan tetapi proporsinya akan sangat tergantung pada pertambahan dalam kesempatan kerja. Apabila pertambahan penduduk diiringi oleh pertambahan dalam kesempatan kerja, maka akan lebih banyak orang yang menerima pendapatan, sehingga daya beli masyarakat akan meningkat. Meningkatnya daya beli masyarakat berarti akan meningkatkan permintaan terhadap barang atau jasa.

4) Selera Konsumen
Selera konsumen mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keinginan masyarakat untuk membeli barang-barang atau jasa-jasa. Contohnya, pada masa-masa tertentu orang lebih suka terhadap barang konsumsi yang bersifat instan (siap saji), sehingga permintaan terhadap barang tersebut akan bertambah. Akan tetapi pada saat yang lain orang akan meninggalkan barang konsumsi yang bersifat instan tersebut karena mengandung bahan pengawet yang berbahaya untuk kesehatan sehingga permintaan terhadap barang konsumsi tersebut akan berkurang.

5) Ekspektasi (harapan konsumen)
Perubahan yang diramalkan akan terjadi di masa datang akan dapat memengaruhi permintaan. Jika para konsumen meramalkan bahwa akan terjadi kenaikan harga-harga barang di masa mendatang, maka pada saat sekarang konsumen akan melakukan pembelian yang lebih banyak terhadap barang-barang yang akan mengalami kenaikan harga tersebut. Contoh, saat BBM akan naik, konsumen akan melakukan pembelian BBM lebih banyak sebelum BBM naik, bahkan mungkin ada yang menimbunnya.



JENIS PENAWARAN :



1) Penawaran Individu adalah jumlah barang yang akan dijual oleh seorang penjual. Contoh penawaran jeruk oleh Pak Heri (lihat Tabel di bawah).

2) Penawaran Kolektif disebut juga penawaran pasar. Penawaran kolektif adalah keseluruhan jumlah suatu barang yang ditawarkan oleh penjual di pasar. Penawaran pasar merupakan penjumlahan dari keseluruhan penawaran perorangan.


PENENTUAN HARGA PENAWARAN :


Begitu pula konsumen, konsumen tidak poleh menawar harga seenaknya saja. Konsumen juga harus memikirkan biaya produksi untuk memproduksi suatu barang, barang dabu yang dikutuhkan dll. Maka dari itu konsumen harus tahu terlebih dahulu faktor-fator apa saja yang menentukan suatu harga penawaran.

1) Harga Input/Biaya Produksi
Harga input turut mempengaruhi kuantitas yang ditawarkan. Ketika harga tenaga kerja, modal, bahan baku, dan bahan pembantu naik, produsen akan terdorong untuk mengurangi kuantitas yang ditawarkan karena menanggung biaya yang lebih besar.

2) Teknologi yang Digunakan
Teknologi yang digunakan dalam produksi semula dimaksudkan agar terjadi efisiensi dalam produksi. Semakin modern teknologi yang digunakan, produksi semakin efisien. Artinya, semakin modern teknologi yang digunakan, baik kualitas maupun kuantitas produksi semakin meningkat dengan biaya produksi yang semakin dapat ditekan. Oleh karena itu, kemajuan teknologi dapat mempengaruhi besar-kecilnya penawaran.

3) Banyaknya Penjual/Pesaing
Banyak atau sedikitnya jumlah penjual berpengaruh terhadap besar-kecilnya harga dan jumlah barang yang ditawarkan.

4) Ekspektasi Penjual/Produsen
Jika penjual memperkirakan harga barang tersebut akan naik, maka ia akan menambah kauntitas barang tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika produsen memperkirakan harga barang akan turun, maka ia akan mengurangi kuantitas barang yang dijualnya.




HUKUM PERMINTAAN & PENAWARAN:

Jika semua asumsi diabaikan : Jika harga semakin murah maka permintaan atau pembeli akan semakin banyak dan sebaliknya. Jika harga semakin rendah/murah maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya.

Semua terjadi karena semua ingin mencari kepuasan (keuntungan) sebesar-besarnya dari harga yang ada. Apabila harga terlalu tinggi maka pembeli mungkin akan membeli sedikit karena uang yang dimiliki terbatas, namun bagi penjual dengan tingginya harga ia akan mencoba memperbanyak barang yang dijual atau diproduksi agar keuntungan yang didapat semakin besar. Harga yang tinggi juga bisa menyebabkan konsumen/pembeli akan mencari produk lain sebagai pengganti barang yang harganya mahal.


1) Hukum permintaan
Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah barang yang diminta meningkat. Dengan demikian hukum permintaan berbunyi:

“Semakin turun tingkat harga, maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia diminta, dan sebaliknya semakin naik tingkat harga semakin sedikit jumlah barang yang bersedia diminta.”

Pada hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus. Artinya hukum permintaan tersebut berlaku jika keadaan atau faktor-faktor selain harga tidak berubah.

2) Hukum penawaran
Bahwa semakin tinggi harga, jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak. Sebaliknya semakin rendah harga barang, jumlah barang yang ditawarkan semakin sedikit. Inilah yang disebut hukum penawaran. Hukum penawaran menunjukkan keterkaitan antara jumlah barang yang ditawarkan dengan tingkat harga. Dengan demikian bunyi hukum penawaran berbunyi:



“Semakin tingi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditwarkan.”

Hukum penawaran akan berlaku apabila faktor-faktor lain yang memengaruhi penawaran tidak berubah.

Jadi Permintaan dan Penawaran itu harus lah seimbang, Apabila penawaran dan permintaan terjadi ketidak seimbangan, maka harga tentu akan terpengaruh, mungkin harga barang akan merosot tajam atau mungkin akan meningkat tinggi. Apabila ketidak seimbangan itu karena permintaan yang sangat tinggi sementara produktivitas barang/jasa tertentu itu tetap, di sisi lain tidak dijumpai barang substitusi sebagai penggantinya, maka harga barang akan melonjak sangat tinggi, dan sebaliknya juga begitu. Oleh karena itu harga terbentuk karena adanya keseimbangan antara penawaran dan permintaan, yaitu antara jumlah produksi barang/jasa tertentu yang ada dalam masyarakat dengan tingkat kebutuhan barang/jasa tertentu dalam masyarakat.

PERILAKU PRODUSEN - SOFTSKILL TEORI ORGANISASI UMUM 2


PENDAHULUAN :

Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk.

PENGERTIAN :

Sebelum kita tahu apa itu produsen kita harus tahu dulu apa sih itu produksi dan produsen. Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Produksi merupakan usaha untuk menciptakan dan meningkatkan kegunaan suatu barang untuk memenuhi kebutuhan Dengan pengertian lain Produksi merupakan konsep arus (flow consept), bahwa kegiatan produksi diukur dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan  dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak berubah. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. 

Produsen adalah orang yang menghasilkan barang atau jasa untuk dijual atau dipasarkan, sedangkan Produksi adalah . 


HAK PRODUSEN :

1) Hak untuk menerima uang pembayaran sesuai dengan kesepakatan
2) Hak untuk menuntut konsumen apabila terjadi penipuan alat pembayaran
3) Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dan pembelaan apabila produk yang dijuak tidak terbukti berdampak negatif

HAK PRODUSEN :

1) Memberikann informasi yang benar dan sesuai dengan keadaan produk
2) Melayani konsumen dengan baik karena " Pembeli adalah Raja "
3) Memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk yang ditawarkan merupakan produk yang aman dan layak untuk dikonsumsi
4) Memberikan ganti rugi apabila produk yang dijual berdampak negatif bagi konsumen


PERILAKU PRODUSEN :

Perilaku produsen adalah kegiatan pengaturan produksi sehingga produk yang dihasilkan bermutu tinggi sehingga bisa di terima di masyarakat dan menghasilkan laba.
Seorang produsen mempunyai satu masalah pokok, yaitu bagaimana dengan sumber daya yang terbatas mereka mereka dapat mencapai hasil yang optimal atau keuntungan yang besar. Oleh karena itu laba adalah suatu ukuran keberhasilan bagi produsen. Seorang produsen dituntut untuk bisa membandingkan antara pengorbanan yang dilakukandengan hasil yang didapat. Berikut ini adalah beberapa contoh perilaku produsen:
1) Mencari keuntungan dengan pemakaian modal seminimal mungkin tapi dengan hasil semaksimal mungkin.
2) Mematok biaya produksi berdasarkan tingkat harga barang modal.
3) Member potongan harga kepada konsumen yang membeli produk dalam jumlah banyak.
4) Tidak hanya menghasilkan barang atau jasa yang sesuai kebutuhan, tetapi juga sesuai trend pasar saat ini.
5) Member diskon besar-besaran untuk produksi yang sudah lama mereka produksi.
6) Produsen juga mengadaptasi isu global atau keadaan sosial yang sedang terkenal saat itu untuk memasarkan barang atau jasa yang mereka jual.

Perilaku produsen dilakukan semata-mata agar tidak merugikan produsen namun juga tidak memberatkan konsumen. Dengan demikian daya konsumsi akan stabil karena antara konsumen maupun produsen sama-sama saling membutuhkan.

Perilaku produsen dalam kegiatan perekonomian :
1) Bagi Masyarakat : Tanggung jawab sosial produsen kepada masyarakat.
2) Bagi Pemerintah : Produsen merupakan partner untuk menjalankan tugas pemerintah dalam mewujudkan tatanan masyarakat.
 
Perilaku produsen dalam kegiatan produksi :
1) Perencanaan : Faktual dan realistis, logis dan rasional, fleksibel, komitmen,komprehensi.
2) Pengorganisasian : Dalam pengorganisasian ini rencana dilakukan dalam sebuah dengan cara mengkoordinasi.
3) Pengarahan : Suatu cara agar produsen bisa melakukan rencana dengan baik atau rencana bsa terwujud.
4) Pengendalian : Proses pengontrolan yang dilakukan oleh produsen.

FUNGSI PRODUKSI :

Seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai
tujuannya harus menentukan dua macam keputusan:
1) Berapa output yang harus diproduksikan, dan
2) Berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.

Untuk menyederhanakan pembahasan secara teoritis, dalam menentukan keputusan tersebut digunakan dua asumsi dasar:
1) Bahwa produsen atau pengusaha selalu berusaha mencapai keuntungan yang maksimum
2) Bahwa produsen atau pengusaha beroperasi dalam pasar persaingan sempurna.

PERILAKU KONSUMEN - SOFTSKILL TEORI ORGANISASI UMUM 2


PENDAHULUAN :

Teori perilaku konsumen yang berkembang sebelum periode tahun 1960-an didasarkan pada teori ekonomi, yakni yang menjelaskan bahwa seorang konsumen akan menetapkan kuantitas komoditas yang dikonsumsi dengan cara memaksimumkan kepuasan (utilitas).  Pada menentuan kuantitas tersebut, konsumen dihadapkan pada kendala pendapatan dan harga komoditas.  Sementara itu, preferensi dan variabel yang lain dianggap tetap atau konstan yang disebut dengan istilah ceteris paribus.  
Pada teori ekonomi mikro, teori konsumen hanya mempertimbangkan dari sisi kuantitas.  Keputusan individu konsumen diturunkan dari perilaku konsumen didalam memaksimumkan utilitas dengan kendala pendapatan 


PENGERTIAN KONSUMEN :

Sebelum membahas perilaku konsumen ada baiknya kita mengerti dulu apa itu konsumen. Konsumen adalah Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Kritis dan berani memperjuangkan haknya apabila barang/jasa yang dibelinya tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan tidak sesuai dengan yang diperjanjikan (kaya pejuang kemerdekaan yup~ hehehe >.<) , tetapi konsumen juga harus mengerti akan kewajibannya.


HAK KONSUMEN :
1) Mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan
2) Memilih barang/jasa yang akan digunakan
3) Memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa
4) Didengar pendapat dan keluhannya
5) Mendapatkan Advokasi
6) Mendapat pembinaan
7) Diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
8) Mendapatkan ganti rugi/kompensasi


KEWAJIBAN KONSUMEN :

1) Membaca atau mengikuti petunjuk/informasi dan prosedur pemakaian
2) Beritikad baik dalam melakukan transaksi
3) Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
4) Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN :

1) Kebudayaan.
Kebudayaan ini sifatnya sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan 
adalah simbul dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat yang ada.
2) Kelas sosial.
Pembagian masyarakat ke dalam golongan/ kelompok berdasarkan pertimbangan tertentu, misal tingkat pendapatan, macam perumahan, dan lokasi tempat tinggal.
3) Kelompok referensi kecil.
Kelompok ‘kecil’ di sekitar individu yang menjadi rujukan bagaimana seseorang harus bersikap dan bertingkah laku, termasuk dalam tingkah laku pembelian, misal kelompok keagamaan, kelompok kerja, kelompok pertemanan, dll.
4) Keluarga.
Lingkungan inti dimana seseorang hidup dan berkembang, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dalam keluarga perlu dicermati pola perilaku pembelian yang menyangkut:
- Siapa yang mempengaruhi keputusan untuk membeli.
- Siapa yang membuat keputusan untuk membeli.
- Siapa yang melakukan pembelian.
- Siapa pemakai produknya.
5) Pengalaman.
Berbagai informasi sebelumnya yang diperoleh seseorang yang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.
6) Kepribadian.
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk beringkah laku.
7) Sikap dan kepercayaan.
Sikap adalah suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsisten. Kepercayaan adalah keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai tertentu yang akan mempengaruhi perilakunya.
8) Konsep diri.
Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri orang lain.


ANALISA TERHADAP PERILAKU KONSUMEN :

Perilaku konsumen merupakan studi tentang cara individu, kelompok, organisasi dalam menyeleksi, membeli, menggunakan, dan mendisposisikan barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Konsumen adalah individu yang mempunyai warna tersendiri tiap-tiap individunya, dalam tulisan ini kita perlu memahami konsep pemikiran mereka dengan mengetahui tahap-tahap dalam proses pembelian sebagai berikut :

1) Menganalisa Keinginan dan Kebutuhan.
Penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditujukan terutama untuk mengetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan.
2) Menilai Sumber-sumber.
Tahap kedua dalam proses pembelian ini sangat berkaitan dengan lamanya waktu dan jumlah uang yang tersedia untuk membeli.
3) Menetapkan Tujuan Pembelian.
Tahap ketika konsumen memutuskan untuk tujuan apa pembelian dilakukan, yang bergantung pada jenis produk dan kebutuhannya.
4) Mengidentifikasikan Alternatif Pembelian.
Tahap ketika konsumen mulai mengidentifikasikan berbagai alternatif pembelian.
5) Keputusan Membeli.
Tahap ketika konsumen mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Jika dianggap bahwa keputusan yang diambil adalah membeli, maka pembeli akan menjumpai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, bentuk produk, merk, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya.
6) Perilaku Sesudah Pembelian.
Tahap terakhir yaitu ketika konsumen sudah melakukan pembelian terhadap produk tertentu.


PENDEKATAN PERILAKU KONSUMEN :

 
1) Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif / dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari dengan pendekatan kuantitatif.
- Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan. Misalnya: mata uang.
- Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambah kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.
Kepuasan marginal (marginal utility). Tambahan kepuasan yang diperoleh dari penambahan jumlah barang yang dikonsumsi. Hukum tambahan kepuasan yang semakin menurun (The Law of Diminishing Marginal Utility). Besarnya kepuasan marginal akan selalu menurun dengan bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi secara terus menerus.

2) Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva indeference : manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif / tidak dapat diukur. Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan – keterbatasan yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.