Monday, October 21, 2013

TUGAS 3 BAHASA INDONESIA

MAKALAH
BAHASA INDONESIA 1


DISUSUN OLEH


1.     CYNTHIA BANOWATY         (11111695)
2.    DHEDY SUHENDRA                     (11111988)
3.    M. JANUARIZMAN AKBAR    (14111890)
4.    SOPHIA RATNA WILIS          (16111866)
5.    STEFANUS SAMUEL                      (19111319)
6.    YONATAN PANDU KRISTANTO     (17111565)


3KA30


UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penyusun dapat membuat makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Komparasi atau Perbandingan Penulisan Kutipan, Catatan Kaki, dan Daftar Pustaka dari beberapa buku.
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mengalami banyak hambatan. Akan tetapi dengan bantuan para anggota kelompok dan dari berbagai pihak, tantangan tersebut dapat terselesaikan. Penyusun mengucapkan terimakasih yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, kepada Ibu Rosi Rosidah, selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia 1 yang telah memberikan bantuan dan masukan dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik  dalam penyusunan malakah maupun materinya. Kritik dari pembaca sangat diharapkan untuk penyusun. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat, pengetahuan, ataupun wawasan bagi pembaca.




Bekasi,  Oktober 2013



Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berkomunikasi dan selalu berhubungan dengan orang lain, agar hal tersebut dapat berjalan lancar diperlukan sarana untuk melakukan kegiatan tersebut, yaitu bahasa. Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena sebagian besar kegiatan manusia menggunakan bahasa. Jadi, bahasa  memilik fungsi atau peran penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat untuk berkomunikasi.
Pada umumnya kita sebagai anggota masyarakat Indonesia dan mahasiswa pada khususnya selalu berinteraksi menggunakan bahasa. Tanpa bahasa, tidak akan terjalin hubungan antar sesama manusia. Dengan menggunakan bahasa kita dapat menyampaikan pemikiran kita secara lisan seperti dalam presentasi maupun secara tulisan seperti dalam penulisan karya ilmiah.  Salah satu cara kita sebagai seorang mahasiswa meyampaikan ide-ide atau pemikiran adalah dengan menuangkan ide tersebut dalam sebuah karya tulis seperti penulisan karya ilmiah.
Dalam penulisan karya ilmiah, pernyataan, teori, ataupun konsep yang kita gunakan sebagai bahan rujukan dalam penulisan karya ilmiah harus mencakup tiga hal, yaitu kita harus dapat mengetahui orang yang membuat pernyataan tersebut, kita juga harus mengetahui media komunikasi yang memuat hal tersebut, dan harus mengetahui lemaga yang menerbitkannya. Tiga hal tersebut disebut teknik notasi ilmiah, yang terdiri dari cara mengutip, membuat catatan kaki, dan menyusun daftar pustaka. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak buku yang telah beredar di pasaran belum semuanya yang menggunakan teknik notasi ilmiah.
Dalam penulisan karya ilmiah penulis lazim mengacu kepada jurnal, text book, pendapat orang lain bahkan mengutip tulisan orang lain. Mengutip dari sumber-sumber tersebut diperbolehkan selama tetap mencantumkan  nama penulis atau dari mana sumber tersebut diambil. Pada prinsipnya terdapat  dua macam kutipan yakni kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Dikarenakan hal-hal tersebut di atas, maka secara lebih mendalam dalam makalah ini akan dibahas tentang kutipan serta catatan kaki, dan daftar pustaka.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dinyatakan sebagai berikut: “Bagaimanakah teknik menulis kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka yang sesuai dengan teknik kutipan ilmiah, dan apakah buku yang sudah tercetak dan beredar di pasaran sudah sesuai dengan teknik penulisan notasi ilmiah?”

C.    Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.     Agar mahasiswa mengetahui cara mengutip yang sesuai dengan kaidah atau teknik  penulisan kutipan ilmiah sehingga dapat membandingkan teknik penulisan ilmiah antara satu buku dengan buku yang lainnya, serta mengetahui kebenaran dan kesalahan yang ada dalam masing-masing buku tersebut.
2.     Supaya mahasiswa mengetahui cara menulis catatan kaki yang sesuai dengan kaidah atau teknik penulisan notasi ilmiah sehingga dapat membandingkan penulisan catatan kaki antara satu buku dengan buku yang lainnya, serta mengetahui kebenaran dan kesalahan yang ada dalam masing-masing buku tersebut.
3.     Untuk mengetahui cara menulis daftar pustaka yang sesuai dengan kaidah atau teknik penulisan notasi ilmiah sehingga dapat membandingkan penulisan daftar pustaka antara satu buku dengan buku yang lainnya, serta mengetahui kebenaran dan kesalahan yang ada dalam masing-masing buku tersebut.







BAB II
PEMBAHASAN

A.     Kutipan
Karya ilmiah dapat mengutip pendapat, konsep dan teori dari sumber lain dengan menyebutkan sumbernya sesuai dengan notasi yang diacu oleh penulis. Ada dua cara mengutip pendapat, konsep dan teori yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.

1.  Kutipan langsung
Kutipan langsung adalah pengambilan sumber yang dilakukan dengan cara apa adanya sesuai dengan aslinya, tanpa mengubah apapun baik itu ejaan, tanda baca, kata, susunan kalimat, bahasanya sampai maknanya. Pada kutipan langsung, nama pengarang dan tahun diikuti dengan halaman dari mana kutipan diambil.
a.    Kutipan Langsung Pendek

Apabila kutipan langsung jumlah barisnya tidak melebihi 3 baris maka tempatkanlah kutipan itu sebagai bagian kalimat di dalam teks dengan cara diberi tanda kutip. Contoh :
Mengenai kalimat efektif Anton M. Moeliono (1990:72) mengemukakan, “Kalimat yang efektif dapat dikenal karena ciri-cirinya seperti keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan keringkasan.”

 






b.    Kutipan langsung Panjang

Apabila kutipan langsung jumlahnya melebihi 3 baris, maka tempatkanlah kutipan ini terpisah dari teks, berjarak 1 spasi, rata kiri dan masuk 5 ketukan dari margin kiri, tanpa mengubah jenis maupun ukuran tulisan. Contoh:
Dalam permasalahan manajemen kas Maurice Levi mengemukakan :
           The objective of effective working-capital management in an international environment are both to allocate short term investments and cash balance holdings between currencies and countries to maximize overall corporate returns and to borrow in different money markets to achieve the minimum cost (Levi, 1990, p. 286)

 






    

Jika dalam kutipan tersebut perlu dihilangkan beberapa kata atau bagian dari kalimat, maka diberi tanda titik tiga buah di awal dan akhir kutipan. Contoh:
Teori Refleksivitas menurut George Soros (1994:42) dalam The Alchemy Finance menyatakan bahwa “…Functions need an independent variable in order to produce a determinate result, but in this case the independent variable of one function is the dependent variable of the other…”

 







2.  Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang menuliskan kembali dengan kata-kata sendiri (parafrase). Kutipan ini dapat dibuat panjang atau pendek dengan cara mengintegrasikan dalam teks, tidak diapit dengan tanda kutip dan menyebutkan sumbernya sesuai dengan teknik notasi yang dijadikan pedoman dalam menulis karya ilmiah. Contoh kutipan tidak langsung:

Pendapat lain tentang unsur-unsur buku teks pelajaran dipaparkan oleh Sitepu, Beliau menyatakan bahwa secara anatomis fisik buku teks pelajaran terdiri dari kulit buku, bagian depan buku, bagian teks buku, dan bagian belakang buku.1

1B.P. Sitepu, Penulisan Buku Teks Pelajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), h. 160

Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang kita kutip dengan mempergunakan angka Arab yang naik diketik setengah spasi. Catatan kaki dengan mempergunakan angka diberi nomor mulai dari angka 1 sampai habis catatan kaki dalam satu bab. Untuk bab baru catatan kaki dimulai lagi dengan angka 1 dan seterusnya.

Dalam satu kalimat dapat mengutip lebih dari satu kutipan. Setiap pernyataan atau konsep yang dikutip diberi tanda kutip. Semua tanda kutip disebutkan sumbernya pada catatan kaki. Contoh kutipan lebih dari satu kutipan dalam satu kalimat.

Emosi adalah persepsi mental yang merupakan umpan balik dari stimulus1,bila ditinjau dari sudut pandang biologi emosi adalah  ekspresi dan perasaan.yang ada pada cortex2,  sedangkan emosi dari konteks sosial adalah perasaan pribadi dan pendekatan perilaku sebagai bawaan. 3

1 Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996), p. 143.
2 K.T. Strangman, The Psychology of Emotion (New York: Chichester, John Wiley and  Sons, 1996), p. 143.
3 Peter Salovey and D.J. Sulyster, Emotional Develompment and Emotional  Inteligence(New York: Basic Books, 1997), p. 13

B.    Catatan Kaki
Catatan kaki adalah penyebutan sumber yang dijadikan kutipan. Tujuan utama catatan kaki adalah mengidentifikasi lokasi yang spesifik dari karya yang dikutip.
Fungsi catatan kaki yaitu :
1.     Memberikan penghargaan terhadap sumber yang dikutip;
2.     Pendukung keabsahan penemuan atau penyataan penulis yang tercantum di dalam teks atau sebagai petunjuk sumber;
3.     Tempat memperluas pembahasan yang diperlukan tetapi tidak relevan jika dimasukkan di dalam teks (penjelasan ini dapat berupa kutipan pula);
4.     Referensi silang, yaitu petunjuk yang menyatakan pada bagian mana atau halaman berapa, hal yang sama dibahas di dalam sebuah tulisan;
5.     Aspek legalitas untuk izin penggunaan karya tulis yang dikutip;
6.     Tempat menyatakan penghargaan atas karya atau data yang diterima dari orang lain;
7.     Serta yang terpenting adalah etika akademik dalam masyarakat ilmiah sebagai wujud kejujuran penulis. 
Kalimat yang dikutip tersebut harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu harus disebutkan halamannya dengan singkatan hal, h, dan atau p,  umpamanya, hal. 143., h.143. atau p.143. Sekiranya  kutipan itu disarikan dari beberapa halaman maka dituliskan halaman-halaman yang dimaksud, umpamanya, hal. 143., hh. 6-10. atau pp. 6-10. Contoh:
1Dali S. Naga, Pengantar Teori Skor pada Pengukuran Pendidikan (Jakarta: Besbats, 1992), h. 306.
2R. I. Arends, Learning to Teach (Singapore: McGraw-Hill Book Company, 1989), hh.12-16.
Catatan kaki ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir, atau dapat juga dimulai setelah beberapa ketukan ketik dari pinggir, asalkan dilakukan secara konsisten. Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang lebih dari tiga orang hanya dituliskan nama pengarang pertama ditambah kata et al.(et alii, artinya, dan kawan-kawan). Contoh :
3David L. Goetsch and Stanley B. Davis, Quality Management: Introduction to Total Quality Management for Production, Processing, and Service (New Jersey:  Prentice-Hall, Inc., 2000), p. 35.
4Ronald K. Hambleton, H. Swaminathan and H. Jane Rogers,Fundamentals of Item  Response Theory  (London: Sage Publications, 1991), hh.12-13.
5John A. R. Wilson et al., Psychological Foundation of Learning and Teaching (New York: McGraw-Hill Book Company, 2004), h. 406.
Jika nama pengarangnya tidak ada maka langsung saja nama bukunya dituliskan atau dituliskan Anon. (Anonymous) di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemah buku, sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya sebagai berikut:
6 Anonim Rencana Strategi Pendidikan (Jakarta:Kementerian Pendidikan Nasional, 2010).
7 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem  Pendidikan Nasional Pasal 2, ayat 1.
8 Peter Lauster, Tes Kepribadian penterj. transl. D.H. Gulo  (Jakarta: Gramedia: 2007), h. 27.
9K.R. Rose and G. Kasper (Eds). Pragmatics in Language Teaching (Cambridge: Cambridge University Press: 2010), h.13.
Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, koran, kumpulan karangan atau dituliskan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip disertai informasi mengenai makalah tersebut:
10Defri Werdiono,“Upaya Menyelamatkan Gambut,” Kompas, 10 Agustus 2010, h.16.
11Douglas Koch dan Mark Sanders, “The Effects of Solid Modeling and Visualization on Technical Problem Solving,” Journal of Technology Education, Vol. 22 (2), Spring2011, hh. 1-5.
12H. Diessel dan M. Tomasello, “Why Complement Clauses Do Not Include a That-Coplementizer in Early Child Language“Proceedings of the Berkeley Linguistic Society, 2009, h. 14.
13Jujun S. Suriasumantri,  “Pembangunan Sosial Budaya Secara Terpadu” dalam  Masalah Sosial Budaya Tahun 2000: Sebuah Bunga Rampai  (Eds) Soedjatmoko et. al. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1986),hh. 10-15.
Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op. cit.(opere citato, artinya, dalam karya yang telah dikutip dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber yang pernah dikutip, mengacu kepada perujukan pertama pada buku, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber lain) dan loc.cit. (singkatan dari loco citato, artinya tempat yang telah dikutip), seperti di atas tetapi dari halaman yang sama. Urutannya nama pengarang, loc.cit (tanpa nomor halaman jika masih berada pada halaman yang sama, diberi nomor halaman jika berbeda). Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan pengulangan nama pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sekiranya pengulangan dilakukan dengan tidak diselingi oleh pengarang lain maka dipergunakan notasi ibid. seperti tampak dalam contoh berikut:
14Ibid., h. 131.
15Ibid.
Artinya, dalam catatan kaki nomor 14  kita mengulangi kutipan dari karangan Jujun S. Suriasumantri seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 dengan nomor halaman yang berbeda. Sementara dalam catatan kaki nomor 15, kita mengulangi kutipan dari karangan Jujun S. Suriasumantri seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 dan tidak diselngi oleh pengarang lain dengan nomor halaman yang sama.
Sekiranya kita mengulang karangan H. Diessel & M. Tomasello  dalam catatan kaki nomor 12 yang terhalang oleh karangan Jujun S. Suriasumantri maka kita tidak lagi menggunakan ibid.melainkan op. cit. seperti contoh di bawah ini:
15Diessel dan Tomasello, op. cit.
Ulangan halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain ditulis dengan mempergunakan loc. cit. sebagai berikut:
16Diessel dan Tomasello, loc.cit.,h.7.
Sekiranya dalam kutipan yang dipergunakan terdapat seorang pengarang yang menulis beberapa karangan maka penggunaan loc. cit.atau op. cit.akan membingungkan. Oleh sebab itu sebagai penggantinya dapat dituliskan nama pengarangnya. Bila judul itu panjang maka dapat dilakukan  penyingkatan selama  hal  itu mampu  mewakili judul karangan yang dimaksud. Contoh 17Diessel dan Tomasello, Why complement clauses, p. 9.
Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dikutip dalam karangan orang lain. Untuk itu maka kedua sumber itu dituliskan sebagai berikut:
18Guilford di dalam Howard Gardner, Frames  of Mind   (New York: Basic Books. Inc.  Publisher, 1983),  hh. 73-75.
Semua kutipan tersebut di atas, baik yang dikutip langsung maupun tidak langsung, sumbernya kemudian disertakan dalam daftar pustaka.

C.    Dafar Pustaka
Daftar pustaka atau bibliografi adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel, dan bahan-bahan penerbitan lain yang mempunyai pertalian dengan karangan yang telah disusun.  Daftar pustaka berfungsi sebagai sumber informasi bagi seseorang peneliti/penulis agar hasil tulisannya dapat dipertanggungjawabkan.
Petunjuk umum penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut :
1.    Daftar pustaka diletakkan pada bagian akhir tulisan.
2.    Daftar pustaka tidak diberi nomor urut.
3.    Nama penulis diurutkan menurut abjad setelah nama pengarang dibalik.
4.    Tiap sumber bacaan diketik dengan jarak satu spasi.
5.    Jarak antarsumber bacaan yang satu dengan yang lainnya dua spasi.
Hal-hal lain yang perlu kita perhatikan dalam penyusunan daftar pustaka adalah sebagai berikut.
1.    Nama Pengarang
? Penulisan nama pengarang dari buku dengan seorang pengarang.
F Nama keluarga ditulis sebelum nama kecil atau inisial. (Untuk memudahkan penyusunan secara alfabetis.)
F Jika buku disusun oleh sebuah komisi/lembaga, nama pengarang.
F Jika tidak ada nama pengarang, urutan dimulai dari judul buku. Keraf, Gorys. 1988. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
? Penulisan nama pengarang dari buku dengan dua atau tiga pengarang.
F Nama pengarang kedua dan ketiga tidak dibalik.
F Urutan nama pengarang harus sesuai dengan yang tercantum dalam halaman judul buku dan tidak boleh ada perubahan urutan.
Contoh:
Kridalaksana, Harimurti dan Djoko Kentjono,ed. 1991.Seminar Bahasa Indonesia 1968. Ende-Flores: Nusa Indah.
? Penulisan nama pengarang dari buku dengan banyak pengarang.
? Hanya nama pertama yang dicantumkan dengan susunan terbalik.
? Nama-nama pengarang yang lainnya dituliskan dengan singkatan dkk.
Contoh:
Karso, dkk. 1994. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum.
Bandung: Angkasa.

2.    Tahun Terbit
Tahun terbit ditulis sesudah nama pengarang dipisahkan dengan tanda titik.

3.    Judul Buku
Judul buku digarisbawahi atau dicetak miring. Setiap huruf awal kata dalam judul diketik dengan huruf kapital, kecuali kata depan dan konjungsi.

4.    Tempat Terbit
Tempat terbit ditulis sesudah judul buku, dipisahkan dengan tanda titik.

5.    Penerbit
Nama penerbit ditulis sesudah tempat terbit dipisahkan dengan tanda titik dua (:) dan diakhiri dengan titik.

6.    Penulisan daftar pustaka dari buku yang terdiri atas dua jilid atau lebih
F Angka jilid ditempatkan sesudah judul dipisahkan dengan sebuah tanda titik.
F Tulisan jilid disingkat Jil. atau Jld..
Contoh:
Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jil. 2 . Yogyakarta: Kanisius.

7.    Penulisan data pustaka dari sebuah buku terjemahan
F Nama pengarang asli diurutkan dalam daftar urutan alfabetis.
F Keterangan penerjemah ditempatkan sesudah judul buku dipisahkan
dengan tanda koma.
Contoh:
Multatuli. 1972. Max Havelar, atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda, terj. H.B. Jassin. Jakarta: Jambatan.

8.    Data Pustaka dari artikel majalah
F Judul artikel dan judul majalah diapit oleh tanda petik.
F Tidak ada tempat publikasi dan penerbit, tapi dicantumkan nomor, tanggal, dan halaman
Contoh:
Solihin, Burhan, dkk. Selamat Datang di Surga Nirkabel.Tempo. Edisi 4-10 April 2005, hal 90-91.

9.  Artikel dari Harian
Tanda titik dipakai sesudah nama pengarang/penulis, selanjutnya menggunakan tanda koma sebagai pemisah.
Contoh  :
Pramudianto. Denderita dan Pemulihan Nias.Kompas, 2 April 2005, hal 46.

HASIL PEMBAHASAN
A.     Kutipan
Berdasarkan observasi kami terhadap 4 buku, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Hubungan Masyarakat, Indonesia 2020,   Manajemen Pemasaran Global diperoleh perbedaan penggunaan kutipan dari buku-buku tersebut.

1)     Buku yang berjudul “Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif”
Dalam buku ini terdapat 74 kutipan, yang terdiri dari kutipan langsung dan  kutipan tidak langsung. Salah satu contoh kutipan tidak langsung dalam buku ini sebagai berikut: Dalam menyusun sebuah modul, ada empat tahapan yang mesti kita lalui, yaitu analisis kurikulum , penentuan judul-judul modul, pemberian kode modul, dan penulisan modul.34 Kutipan tersebut sudah benar karena terintegrasi dalam teks dan tidak diapit dengan tanda kutip.
Salah satu contoh kutipan langsung dalam buku ini sebagai berikut: Echols dan Shadily (1996:228) mengartikan bahwa handout adalah sesuatu yang diberikan secara gratis. Kutipan tersebut adalah kutipan langsung pendek, penulisannya sudah benar karena terintegrasi dalam teks, namun belum benar karena tidak diberi tanda kutip pada bagian yang dikutip.

2)     Buku yang berjudul “Hubungan Masyarakat”
Dalam buku ini terdapat 55 kutipan, yang terdiri dari kutipan langsung dan tidak langsung. Contoh kutipan langsung pada buku ini yaitu: James B. Lindheim, wakil direktur utama Yankelovitch,Skelly and White Inc, mengatakan “Saya tidak percaya adanya suatu lembaga yang mengecualikan fenomena ini.” Penulisan kutipan langsung pada buku ini sudah benar, karena terdapat tanda kutip yang menandakan bagian mana yang ingin dikutip.
Kutipan tidak langsung pada buku ini sebagai berikut: Tantangan bagi hubungan masyarakat, menurut pendapatnya adalah karena manajemen sedikit lebih banyak mendengarkan, dan kurang banyak berbicara dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan pada waktu lampau.2 Kutipan tidak langsung ini sudah benar karena terintegrasi dalam teks dan tidak diapit dengan tanda kutip.

3)     Buku yang berjudul “Indonesia 2020”
Dalam buku Indonesia 2020 ini terdapat 152 kutipan, yang terdiri dari kutipan langsung dan tidak langsung. Contoh kutipan tidak langsung pada buku ini sebagai berikut: Landasan intinya bukanlah perihal ketidakpercayaan kepada pemerintah, tetapi kepada keyakinan bahwa sebenarnya ada hal-hal yang memang tidak bisa dilaksanakan oleh pemerintah. Bahwa pemerintah memiliki keterbatasan1. Kutipan ini sudah benar karena terintegrasi dalam teks dan tidak diapit oleh tanda petik.
Kutipan langsung pada buku Indonesia 2020 contohya yaitu: Dari Kamus Bahasa Indonesia, definisi koperai adalah “perserikatan yang bertujuan memenuhi keperluan kebendaan para anggotanya dengan cara menjual barang-barang kebutuan dengan harga murah (tidak bermaksud mencari untung)”.99 Penulisan kutipan langsung pada buku ini sudah benar karena kutipan tersebut diapit oleh tanda petik dan terintegrasi dalam teks.

4)     Buku yang berjudul “Manajemen Pemasaran Global”
Pada buku Manajemen Pemasaran Global terdapat 186 kutipan yang terdapat kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Salah satu contoh kutipan tidak langsung pada buku ini sebagai berikut: Bauran pemasaran (produk, harga, distribusi,dan promosi) mencakup sarana utama pemasar dewasa ini.2 Pada penulisan kutipan tersebut sudah benar karena kutipan tersebut terintegrasi dengan teks dan tidak diapit oleh tanda kutip.
Salah satu contoh kutipan langsung pada buku ini yaitu: Seperti yang dikatakan oleh C. David Clark, CEO dari Campbell Canada, Startegi untuk wilayah Amerika Utara sederhana saja. Anda memasarkan secara lokal, membuatya secara regional, dan sumber daya secara global dengan teknologi, pengetahuan, dan suplai yang sudah umum berlaku.”20 Kutipan langsung ini sudah benar karena terintegrasi pada teks dan diapit oleh tanda kutip.


Perbandingan Kutipan dari Keempat Buku :

Buku 1
(PKMBAI)
Buku 2
(HM)
Buku 3
(Indonesia 2020)
Buku 4
(MPG)
? Jumlah kutipan dalam buku ini adalah 74.
? Kutipan dalam buku ini lebih banyak terdapat kutipan tidak langsung.
? Angka di bagian kutipan berurutan dari halaman awal sampai akhir
? Jumlah kutipan dalam buku ini adalah 55.
? Dalam buku ini kutipan langsung lebih banyak daripada kutipan tidak langsung
? Angka di bagian kutipan berurutan tetapi hanya perbab saja, tidak berurutan dari halaman awal sampai akhir.
? Jumlah kutipan dalam buku ini adalah 152.
? Pada buku ini lebih banyak terdapat kutipan tidak langsung.
? Angka di bagian kutipan buku ini berurutan dari halaman awal hingga akhir

? Jumlah kutipan dalam buku ini adalah 186.
? Di dalam buku ini lebih banyak kutipan tidak langsung dibandingkan kutipan langsung.
? Angka yang ada pada bagian kutipan berurutan tetapi hanya perbab saja, tidak berurutan dari halaman awal sampai akhir.






B.    Catatan Kaki
Berdasarkan observasi kami terhadap 4 buku, yaitu Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Hubungan Masyarakat, Indonesia 2020,   Manajemen Pemasaran Global diperoleh perbedaan penggunaan catatan kaki dari buku-buku tersebut.

1.    Buku yang berjudul “Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif”

Dalam buku ini terdapat 74 catatan kaki, salah satu contoh catatan kaki pada buku ini yaitu sebagai berikut:
1 Diknas, Pedoman Umum Pemilihan dan Pemanfaatan Bahan Ajar (Jakarta: Ditjen Dikdasmenum, 2004).
2 Ibid.
Penulisan catatan kaki yang pertama sudah benar, tetapi tidak dituliskan sumber halamannya, dan catatan kaki yang kedua artinya pengulangan kutipan yang dilakukan dengan tidak diselingi oleh pengarang lain maka dipergunakan notasi ibid.
2.    Buku yang berjudul “Hubungan Masyarakat”
Dalam buku ini terdapat 55 catatan kaki, contoh catatan kaki pada buku ini sebagai berikut:
1.    Thomas E. O’Hara dan Donald P. Durocher, ”The Decade of the Individual Investor”, Public Relations Journal 36, No. 4 April 1980, hlm. 15.
Penulisan catatan kaki pada buku ini salah, karena catatan kakinya tidak ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir, atau dimulai setelah beberapa ketukan ketik dari pinggir dan penulisan singkatan halaman biasanya menggunakan hal, h, dan p. Bukan dengan menggunakan singkatan hlm.

3.    Buku yang berjudul “Indonesia 2020”
Dalam buku Indonesia 2020 ini terdapat 152 catatan kaki, salah satu contoh catatan kaki pada buku ini yaitu:
          1 Peter F Drucker, The New Realities (edisi terjemahan Indonesia), Jakarta: Elex Media Komputindo, 1997, h. 59-75.
Penulisan catatan kaki ini sudah benar, tetapi jika halamannya lebih dari satu biasanya disingkat dengan singkatan hh. atau pp.
4.    Buku yang berjudul “Manajemen Pemasaran Global”
Pada buku Manajemen Pemasaran Global terdapat 186 catatan kaki, sebagai contohnya yaitu sebagai berikut:
          4 Joanne Lipman, “Ad Fad; Marketers Turn Sour on Global Sales Pitch Harvard Guru Makes,” The Wall Street Journal, 12 May 1998, p.1.
Penulisan catatan kaki ini sudah benar sesuai dengan cara penulisan catatan kaki yang benar.









Perbandingan Catatan Kaki dari Keempat Buku :

Buku 1
(PKMBAI)
Buku 2
(HM)
Buku 3
(Indonesia 2020)
Buku 4
(MPG)
? Jumlah catatan kaki dalam buku ini adalah 74.
? Catatan kaki pada buku ini rata-rata tidak ada sumber halamannya.
? Penulisan catatan kaki terdapat pada bagian bawah halaman, setiap ada kutipan yang dikutip.
? Jumlah catatan kaki dalam buku ini adalah 55.
? Catatan kaki pada buku ini semua singkat halamannya tidak meng-gunakan singkatan h. atau p. melainkan dengan singkatan hlm.
? Penulisan catatan kakinya salah, karena penulisannya terdapat pada setiap akhir sub-bab.
? Jumlah catatan kaki dalam buku ini adalah 152.
? Catatan kaki pada buku ini sudah hampir benar, tetapi masih ada yang salah seperti : penulisan halaman yang lebih dari satu yang seharusnya disingkat dengan hh. atau pp. Pada buku ini ditulis hanya dengan h. Saja.
? Penulisan catatan kaki pada buku ini ter- dapat pada bagian  bawah halaman setiap ada kutipan yang dikutip.

? Jumlah catatan kaki dalam buku ini adalah 186.
? Catatan kaki pada buku ini sudah hampir benar tetapi masih ada yang salah, penulisannya seperti: ada beberapa  catatan kaki yang tidak menggunakan singkatan untuk halaman
? Penulisan catatan kaki pada buku ini terdapat pada bagian  bawah halaman setiap ada kutipan yang dikutip.


C.   Daftar Pustaka
Berdasarkan observasi kami terhadap 4 buku, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Hubungan Masyarakat, Indonesia 2020,   Manajemen Pemasaran Global diperoleh perbedaan penggunaan daftar pustaka dari buku-buku tersebut.
1.    Buku yang berjudul “Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif”
Dalam buku Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif ini contoh penulisan daftar pustakanya sebagai berikut:
                        Anderson, Ronald H. 1987. Pemilihan dan Pengembangan
          Media untuk Pembelajaran. Jakarta: Rajawali.

Penulisan daftar pustaka pada buku ini sudah benar sesuai dengan langkah-langkah penulisan daftar pustaka yang benar, dengan format American Psychological Association (APA) style penulisan tahun setelah nama pengarang.

2.    Buku yang berjudul “Hubungan Masyarakat”

Dalam buku Hubungan Masyarakat  ini, contoh penulisan daftar pustakanya yaitu:

Anshen, Melvin, ed., Managing the Socially Responsible Corporation,
                      Macmillan, New York 1974

Penulisan daftar pustaka pada buku Hubungan Masyarakat ini menggunakan Vancouver  style  yaitu salah satu cara penulisan tahunnya berda diakhir.




3.    Buku yang berjudul “Indonesia 2020”
Dalam buku Indonesia 2020 contoh penulisan daftar pustakanya yaitu:
Abeng, Tanri, Dari Meja Tanri Abeng, Jakarta: Pustaka, 1997.
Penulisan daftar pustaka pada buku ini menggunakan Vancouver style penulisan tahunnya berada di akhir.

4.    Buku yang berjudul “Manajemen Pemasaran Global”
Pada buku Manajemen Pemasaran Global salah satu contoh penulisan daftar pustakanya yaitu:
Van Wolferen, Karel G. “The Japan Problem.” Foreign
Affairs (Winter 1986):288-303.
Penulisan daftar pustaka pada buku Manajemen Pemasaran Global ini menggunakan Chicago style.

Perbandingan Daftar Pustaka dari Keempat Buku :

Buku 1
(PKMBAI)
Buku 2
(HM)
Buku 3
(Indonesia 2020)
Buku 4
(MPG)
? Daftar Pustaka pada buku ini menggunakan APA Style.

? Daftar Pustaka pada buku ini menggunakan Vancouver Style.

? Daftar Pustaka pada buku ini menggunakan Vancouver Style.

? Daftar Pustaka pada buku ini menggunakan Chigago Style.



BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dalam menyampaikan suatu pesan atau informasi kepada seseorang secara tertulis, seperti dalam buku dan karya ilmiah, kita perlu mengemas pesan tersebut dengan baik agar pesan atau informasi yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan jelas. Oleh karena itu, dalam menulis informasi tersebut diperlukan teknik menulis notasi ilmiah. Dalam penulisan karya ilmiah, pernyataan, teori, ataupun konsep yang kita gunakan sebagai bahan rujukan dalam penulisan karya ilmiah harus mencakup tiga hal, yaitu:
1.    Kutipan, yang terdiri dari kutipan langsung dan tidak langsung
2.    Catatan kaki, adalah penyebutan sumber yang dijadikan kutipan
3.    Daftar pustaka, adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel, dan bahan-bahan penerbitan lain yang mempunyai pertalian dengan karangan yang telah disusun.

B.   Saran
1.     Untuk mahasiswa
Dengan mengetahui teknik menulis kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka, maka ketika menulis karya ilmiah kita dapat mengutip dengan benar, menulis catatan kaki dan daftar pustaka dengan benar. Selain itu, dengan melakukan tiga hal tersebut kita dapat menghargai hasil karya orang lain dengan tidak hanya menjiplak.

2.     Untuk penulis buku


Penulis buku juga harus mengetahui kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka yang sesuai dengan teknik penulisan notasi ilmiah. Jangan hanya asal menulis saja, tetapi harus memperhatikan tata cara penulisan notasi ilmiah, sehingga lebih jelas yang mana kutipan langsung dan tidak langsung, bagian mana yang dikutip, nama pengarang, judul buku, halaman yang dikutip, dan memperhatikan juga penulisan catatan kaki serta daftar pustaka.

TUGAS 1 BAHASA INDONESIA

Faktor-faktor penunjang untuk menjadi pandai menulis :
1)    Ragam Bahasa
2)    Ejaan
3)    Diksi
4)    Kalimat
5)    Alinea & Pembangunya
6)    Kerangka Karangan
7)    Kutipan & Catatan kaki
8)    Abstraksi & Daftar Pustaka

Tujuan :
Agar mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan maupun tulisan sebagai sarana pengungkapan gagasan ilmiah.

Pertanyaan :
Apakah dengan menguasai faktor di atas, tujuan yang diharapkan dapat terpenuhi?

Jawaban :
ARGUMENTASI

Menurut saya, jawabannya adalah “Ya” dapat terpenuhi. Karena di dalam faktor-faktor tersebut sudah terdapat aturan-aturan baku dalam hal penulisan khususnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dari awal penulisan sampai akhir tulisan. Namun pada kenyataannya untuk menerapkan dan menggabungkan ke delapan unsur tersebut dalam suatu karya penulisan tidaklah mudah, sebab penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih sangat sulit karena dipengaruhi faktor-faktor dari luar seperti kebiasaan penggunaan bahasa-bahasa gaul maupun bahasa daerah, terkadang kita mengerti maksud dan maknanya namun menjadi sulit apabila kita ingin mengubahya ke bahasa Indonesia yang baik dan benar. Faktor lainnya bisa dikatakan, yaitu sebagai seorang penulis perlu mempelajari ke delapan unsur tersebut untuk menguasainya, ini berarti memerlukan waktu tersendiri dan mampu memperpanjang atau menghabiskan banyak waktu untuk membuat suatu penulisan gagasan ilmiah yang sempurna.


TUGAS 2 BAHASA INDONESIA - SINOPSIS

Mata Kuliah     :           Softskill – Bahasa Indonesia
Dosen              :           Ibu Rosi Rosidah
Surat kabar      :           Tribun Jakartoftski
Edisi                 :           Rabu, 16 Oktober 2013
Nama               :           Yonatan Pandu Kristanto
NPM                :           1 7 1 1 1 5 6 5
Kelas               :           3KA-30



“Dari Thohir Untuk Indonesia”

Keberadaan klub sepakbola asal Italia, FC Internazionale Milan atau yang lebih dikenal dengan nama Inter Milan, saat ini tidak lagi sepenuhnya milik Massimo Moratti. Trio pengusaha Indonesia yaitu : Erick Thohir, Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo pada hari Selasa, 15 Oktober 2013 akhirnya menandatangani pembelian mayoritas saham sebesar 70% dan kini Massimo Moratti hanya memiliki saham sebesar 30% di klub tersebut. Menurut sumber majalah Forbes, dari 70% saham tersebut, prosentase terbesar dipegang oleh Erick Thohir yang memiliki 35% dan 17,5% masing-masing dimiliki oleh Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo. Trio pengusaha tersebut harus mengeluarkan uang sejumlah € 250 juta Euro atau $ 340 juta U.S. Dollar atau sekitar Rp 3,8 triliun Rupiah. Hal ini menjadi catatan sejarah besar bagi klub sepakbola benua Eropa dan klub di Italia pada khususnya maupun sejarah bangsa Indonesia, yang merupakan pertama kalinya sebuah klub sepakbola dibeli warga negara Indonesia dan langsung memiliki saham mayoritas. Selain klub sepakbola di Italia, Erick Thohir pun memiliki saham dibeberapa klub olahraga di negara Amerika Serikat, antara lain : klub MLS (Major League Soccer) yaitu DC United dan klub NBA (National Basketball Association) yaitu Philadelphia 76ers. Erick Thohir berharap usahanya ini bukan hanya untuk bisnis semata, namun juga untuk kepentingan olahraga nasional yang kedepannya semoga dapat bertumbuh dan berkembang lebih pesat dan juga memiliki standar internasional.

Wednesday, May 15, 2013

PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI - SOFTSKILL TEORI ORGANISASI UMUM 2

“PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI”

Sebelum lebih jauh membahas peranan komunikasi dalam organisasi, kita perlu memahami dahulu pengertian dari komunikasi dan organisasi, berikut adalah penjelasannya :
A.   Pengertian Komunikasi :
1.    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :  
Pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; perhubungan.
2.    Menurut Wikipedia :
Suatu proses di mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain
3.    Menurut Onong Cahyana Effendi :
Proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung.
4.    Menurut Harold Laswell :
Gambaran mengenai siapa, mengatakan apa, melalui media apa, kepada siapa dan apa efeknya.
5.    Menurut Raymond Ross :
Proses menyortir, memilih, dan pengiriman simbol-simbol sedemikian rupa agar membantu pendengar membangkitkan respons atau makna dari pemikiran yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh komunikator.
6.    Menurut Everett M. Rogers :
Proses suatu ide dialihkan dari satu sumber kepada satu atau banyak penerima dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
7.    Menurut Carl I. Hovland :
Proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.
8.    Menurut Theodore M. Newcomb :
Transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima.
9.    Menurut Bernard Barelson & Garry A. Steiner :
Proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.

B.    Pengertian Organisasi :
1.    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
Kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian dalam perkumpulan untuk tujuan tertentu;
kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.
2.    Menurut Wikipedia :
Suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.
3.    Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian :
Setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara
formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang atau beberapa orang yang disebut atasan dan seorang atau sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.
4.    Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan :
Suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja.
5.    Menurut Prof. Dr. Mr. Pradjudi Armosudiro :
Struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu
6.    Menurut Stoner :
Suatu pola hubungan tertentu antara orang-orang dibawah pengarahan atasan (pimpinan) untuk mengejar tujuan bersama.
7.    Menurut James D. Mooney :
Suatu sistem aktifitas orang-orang yang terdiri dari dua orang atau lebih yang bekerjasama.
8.    Menurut Stephen P. Robbins :
Suatu kesatuan sosial yang secara sadar dikoordinasi dengan suatu batasan yang telah ditentukan yang bekerjasama secara terus menerus untuk mencapai satu atau sekelompok tujuan bersama.
9.    Menurut Ernest Dale :
Suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu  struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.
10.  Menurut Cyril Soffer :
Perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil.

               Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu organisasi di dalamnya pasti terdapat sumber daya manusia (SDM) yang notabenenya manusia tersebut adalah mahkluk individu sekaligus juga makhluk sosial. Kemudian suatu organisasi membutuhkan yang namanya sistem atau manajemen sebagai acuan kerjanya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Sehingga sebagai makhluk sosial sudah pasti memerlukan yang namanya komunikasi dengan makhluk sosial lainnya, sebab komunikasi akan terjalin jika terdiri sekurang-kurangnya dua individu. Dalam kaitannya dengan sistem dalam suatu organisasi, komunikasi sangat dibutuhkan bahkan bisa dikatakan sangat vital kehadirannya karena sistem akan berjalan dengan baik dan lancar sehingga dapat diterapkan kepada semua anggota suatu organisasi mulai dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Suatu organisasi yang terbentuk tanpa adanya komunikasi yang baik dan lancar merupakan organisasi yang tidak akan berjalan secara teratur sesuai sistem yang ada, organisasi tersebut juga tidak akan berkembang bahkan bisa saja organisasi tersebut akan mati.
               Sebagai contohnya, dalam suatu perusahaan para karyawannya tidak akan tahu apa yang akan dikakukannya dan apa yang dikerjakan rekannya. Pemimpin tidak bisa memberikan instruksi dan menerima masukan dari bawahannya. Koordinasi tidak berjalan, kerja sama tidak terjadi, masing-masing orang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, kebutuhannya, masalah yang dihadapinya dalam pekerjaan kepada rekannya, timnya, suvervisornya atau kepada pimpinannya. Komunikasi merupakan aktivitas yang menghubungkan antar manusia dan antar kelompok dalam sebuah organisasi. Jika jenis dan pembagian pekerjaan demikian banyak, beragam, dan berbeda-beda, maka dibutuhkan suatu jembatan penghubung. Jembatan penghubung yang dimaksud di sini adalah komunikasi.

               Sebabnya komunikasi itu penting dalam suatu organisasi :
1.    Menghasilkan pemahaman yang sama antara pengirim informasi dengan penerima 
informasi pada semua tingkatan dalam organisasi.
2.    Membangun iklim organisasi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi efisiensi dan 
produktifitas organisasi.
3.    Membangkitkan kinerja orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut yang pada 
akhirnya dapat mempengaruhi efektifitas organisasi.

Sehingga muncul suatu istilah, yaitu : “Tujuan suatu organisasi tidak mungkin tercapai tanpa adanya suatu sistem atau manajemen di dalamnya, bahkan sebaliknya suatu sistem atau manajemen tidak mungkin ada tanpa organisasi”. Korelasinya antara komunikasi dan organisasi ada pada peninjauannya yang terfokus kepada SDM yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi

Komponen yang dibutuhkan agar komunikasi dapat terjalin :
1.    Pengirim atau komunikator (sender) :
Pihak yang mengirimkan pesan kepada komunikan.
2.    Pesan (message) :
Informasi atau maksud yang akan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.
3.    Saluran (channel) :
Media yang dipakai di mana pesan disampaikan kepada komunikan.
4.    Penerima atau komunikan (receiver) :
Pihak yang menerima pesan dari komunikator.
5.    Umpan balik (feedback) :
Tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
6.    Aturan (protokol) :
Kesepakatan para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan.

Faktor yang mempengaruhi dalam suatu komunikasi :
1.    Bahasa dan tulisan :
Bahasa akan sangat berpengaruh jika berkomunikasi lisan atau verbal sedangkan tulisan berpengaruh jika berkomunikasi tertulis atau non-verbal dengan orang yang berbeda daerah, baik lokal secara suku maupun internasional secara kewarganegaraan. Cara pengucapan, bentuk huruf dan tanda baca yang berbeda dapat menimbulkan arti yang berbeda pula.
2.    Latar belakang budaya :
Kesan suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.
3.    Ikatan kelompok atau group :
Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi cara mengamati pesan.
4.    Harapan :
Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan.
5.    Pendidikan :
Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam menyikapi isi pesan yang disampaikan.
6.    Situasi :
Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.

               Fungsi komunikasi dalam organisasi menurut para ahli, antara lain :
1.    Menurut Sendjaja :
a.    Fungsi Informatif :
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan lebih tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti.
b.    Fungsi Regulatif :
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu:
ü Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki organisasi juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.
ü Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
c.    Fungsi Regulatif :
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
d.   Fungsi Integratif :
Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu :
ü Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi.
ü Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata.
2.    Menurut Scott dan T.R. Mitchell :
a.    Kendali, kontrol, pengawasan.
b.    Motivasi.
c.    Pengungkapan emosional.
d.   Informasi.
3.    Menurut Thayer :
a.    Memberi informasi.
b.    Membujuk.
c.    Memerintah.
d.   Memberi instruksi.
e.    Mengintegrasikan organisasi.

Proses komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi :
A.  Komunikasi Internal :
Proses komunikasi di antara para pengurus dan anggota dalam ruang lingkup suatu organisasi, dalam struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan vertikal, sehingga kerja organisasi dapat berjalan. Komunikasi internal terdiri atas empat bagian, yaitu :
1.    Downward Communication (komunikasi dari atas ke bawah) :
Komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajer atau supervisor mengirimkan pesan kepada bawahannya.
Fungsi komunikasi dari atas ke bawah antara lain :
a.    Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja.
b.    Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan.
c.    Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku.
d.   Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.
Metode komunikasi dari atas ke bawah antara lain :
a.    Metode tulisan.
b.    Metode lisan.
c.    Metode tulisan diikuti lisan.
d.   Metode lisan diikuti tulisan.
2.    Upward Communication (komunikasi dari bawah ke atas) :
Komunikasi yang terjadi ketika bawahan mengirim pesan kepada atasannya.
Fungsi komunikasi dari bawah ke atas antara lain :
a.    Penyampaian informai tentang pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan.
b.  Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan.
c.    Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan.
d.   Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.
Komunikasi ke atas menjadi terlalu rumit dan menyita waktu dan mungkin hanya segelintir kecil manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari bawah. Alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat sulit dan rumit :
a.    Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka.
b.    Perasaan bahwa atasan mereka tidak tertarik kepada masalah yang dialami pegawai.
c.    Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai.
d.   Perasaan bahwa atasan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang 
disampaikan pegawai.
3.    Horizontal Communication (komunikasi sesama) :
Komunikasi yang berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara.
Fungsi komunikasi sesama antara lain :
a.    Memperbaiki koordinasi tugas.
b.    Upaya pemecahan masalah.
c.    Saling berbagi informasi.
d.   Upaya pemecahan konflik.
e.    Membina hubungan dan mempererat kekeluargaan melalui kegiatan bersama.
4.    Interline Communication (komunikasi lintas saluran) :
Komunikasi untuk berbagi informasi melewati batas-batas fungsional. Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas-saluran ini karena biasanya tanggung jawab
mereka berhubungan dengan jabatan fungsional. Kondisi yang harus dipenuhi dalam komunikasi lintas-saluran :
a.    Setiap pegawai yang ingin berkomunikasi melintas saluran harus meminta izin terlebih dahulu dari atasannya langsung.
b. Setiap pegawai yang terlibat dalam komunikasi lintas-saluran harus memberitahukan hasil komunikasinya kepada atasannya.

B.  Komunikasi Eksternal :
Proses komunikasi di antara para pengurus dan anggota suatu organisasi dengan orang atau masyarakat umum.
1.    Komunikasi dari organisasi kepada masyarakat.
Contohnya : konferensi pers, iklan, brosur
2.    Komunikasi dari masyarakat kepada organisasi.
Contohnya : menerima saran kritik, hotline customer service 24 jam

Dalam berkomunikasi diperlukan adanya gaya komunikasi yaitu antara lain :
1.    Controlling Style (gaya komunikasi mengendalikan) :
Dalam gaya komunikasi ini ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikasi satu arah atau one-way communications. Pihak - pihak yang memakai gaya komunikasi ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berharap pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan maupun pada umpan balik, kecuali jika umpan balik tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya. Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. Gaya komunikasi ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik. Sehingga tidak jarang gaya komunikasi ini bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula.
2.    Equalitarian Style (gaya komunikasi kesamaan) :
Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama. Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan, ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way communication). Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja. Gaya komunikasi ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.
3.    Structuring Style (gaya komunikasi berstruktur) :
Dalam gaya komunikasi ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk memengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut. Menurut Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan mereka bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
4.    Dynamic Style (gaya komunikasi dinamis) :
Dalam gaya komunikasi ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). Gaya komunikasi ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen). Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah mestimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.
5.    Relinquishing Style (gaya komunikasi menerima)
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain. Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.
6.    Withdrawal Style (gaya komunikasi penarikan)
Akibat yang muncul jika gaya komunikasi ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.

Yonatan Pandu Kristanto - 2KA30 - 17111565